Situbondo РOjhung atau Ojung adalah suatu kebudayaan dari Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, dimana kebudayaan ojhung itu sendiri telah dianut dan dilakukan oleh para leluhur dan nenek moyang (pembabat) Desa Bugeman terdahulu. Kebudayaan ini telah dilakukan secara turun temurun. Tradisi ini sebelumnya dilaksanakan atas dasar masyarakat Desa Bugeman memiliki hajat atau tujuan yaitu untuk meminta hujan kepada sang kuasa  dan juga untuk menghindari bencana atau penolak bala Desa Bugeman, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo.

Selain simbol rasa syukur kebudayaan Ojhung kepada sang kuasa, kebudayaan ini juga digunakan oleh masyarakat Desa Bugeman sebagai pertandingan atau hiburan desa setempat yang diikuti oleh masyarakat Desa Bugeman, meliputi anak-anak, para pemuda desa, orang tua dan lain-lain, namun masyarakat luar daerah juga sangat antusias mengikuti kesenian ini, salah satunya dari kabupaten Bondowoso.

Salah satu aksi peserta saat mengikuti kesenian Ojung

Alat-alat yang dipergunakan dalam tradisi Ojhung yaitu rotan yang telah dipersiapkan khusus oleh panitia penyelenggara, sedangkan untuk pakaian para pemain ojung diwajibkan hanya memakai sarung dengan kopyah, dan terdapat pula alat musik yang dimainkan untuk mengiringi pemain dalam melaksanakan tradisi Ojhung tersebut, seperti gamelan, gendang, dan gong. Aturan dalam aksi kesenian Ojhung ini tiap pemain memiliki jatah memukul dan menangkis masing-masing tiga kali.

Sebelum tradisi ojung dilakukan masyarakat Desa Bugeman melakukan selametan, sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Acara tersebut dilakukan satu hari sebelum Ojhung tersebut dilaksanakan, yaitu hari Senin. Setelah selamatan dilaksanakan keesokan harinya (hari Selasa) pagi dilaksanakan upacara adat dan penyambutan kegiatan Ojhung tersebut. Rangkaian kegiatan Ojhung dilaksanakan hari Selasa pukul 13.00 WIB hingga selesai. Pada saat pertunjukan Ojhung dimulai, ditampilkan pula hiburan-hiburan lain yang menarik seperti musik, kumpul bersama masyarakat desa sebagai wujud dari kebersamaan dan kekeluargaan serta rasa syukur atas apa yang telah mereka peroleh.

Jabat tangan sebelum melakukan pertandingan

Sakera (Cerme) melawan Leter (Alas Malang)

Sumber : Diskominfo Persandian