SITUBONDO – Ribuan warga Situbondo memadati Alun-Alun kabupaten, Kamis (14/12/2017) malam. Mereka berduyun-duyun ingin menikmati Festival Odjhung 2017 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata setempat. Para penonton itu terdiri dari anak-anak, remaja, orangtua, laki-laki, maupun perempuan.

Odjhung adalah seni tradisional khas Situbondo. Dalam pertunjukkan budaya ini, sepasang laki-laki “saling pukul” dengan rotan. Mereka mengenakan sarung yang dililitkan di celana, juga ikat kepala dengan warna senada dengan sarung tersebut. Dalam kesempatan ini, ada sepuluh pasang pemain yang saling serang.  Gerakan saling pukul itu dihiasi dengan sentuhan tari. Jadi, secara umum, mereka tidak berniat saling menyakiti. Namun, hanya ingin memertontonkan gerakan yang memikat.  Terlebih, alunan musik tradisional dari gamelang, gendang dan gong, ikut mengiringi. Kesemarakan acara malam itu membius dan menghibur para penonton. Masyarakat tampak berkonsentrasi menyaksikan suguhan tersebut.

“Ojhung ini unik dan hanya dimiliki Situbondo,” kata Alvin Nur, salah satu warga. Tradisi Ojhung telah dilakukan secara turun temurun. Biasanya dilaksanakan rutin setahun sekali. Tradisi ini sebelumnya dilaksanakan atas dasar keinginan meminta hujan oleh warga Desa Bugeman, Kecamatan Kendit.

Meski demikian, saat ini Ojhung menjelma kesenian yang ditujukan sebagai bentuk rasa syukur, serta sarana menjalin kebersamaan dan kekeluargaan antar warga Situbondo. Dua orang yang “bertarung” di venue acara pun tak menyimpan rasa dendam satu sama lain. Mereka bersalaman sebelum dan sesudah acara. Ojhung merupakan hiburan rakyat yang bisa memikat para turis domestik maupun asing. “Kegiatan kali ini merupakan upaya kami mengenalkan kekayaan seni budaya Situbondo kepada khalayak luas,” ungkap Bupati Dadang Wigiarto dalam sambutannya.

Terlebih, Pemkab sudah mencanangkan tahun 2019 mendatang sebagai tahun kunjungan wisata di kawasan itu. “Selain Ojhung, Situbondo juga masih punya banyak objek wisata lainnya. Baik berbentuk khazanah seni budaya, kuliner, panorama alam, dan lain sebagainya,” imbuh dia.

Guna menyambut tahun kunjungan wisata 2019, Pemkab melakukan persiapan maupun promosi secara komprehensif. Tiap unsur Organisasi Perangkat Daerah dikerahkan. Sebab, penguatan sektor pariwisata adalah salah satu kunci memompa kesejahteraan rakyat. Jadi, semua pihak di internal eksekutif, maupun di masyarakat secara umum, mesti melakukan sinergi.

Sebagai contoh, di Situbondo terdapat Desa Kebangsaan. Di wilayah itu, penduduknya berasal dari latar agama maupun suku yang berbeda. Namun, tetap rukun dan saling mengisi. Nah, untuk mempromosikan potensi atau modal sosial itu, Bakesbangpol mesti aktif. Pengenalan Desa Kebangsaan sebagai simbol persatuan tidak hanya domain Dinas Pariwisata.

“Semua instansi di lingkup Pemkab memiliki kesamaan visi untuk mengembangkan pariwisata,” ujar Bupati Dadang.

Sumber : surabaya.tribunnews.com/2017/12/14/pertunjukkan-odjhung-hibur-warga-situbondo.