Bupati H. Dadang Wigiarto, SH menyerahkan bantuan non tunai kepada guru ngaji dan guru minggu di tiga kecamatan sekaligus, Kec. Arjasa, Kapongan dan Mangaran, pada Selasa (22/05). Penyaluran bantuan ini dalam rangka membangun dan memperkokoh silaturahim antara ulama dan umaro. Juga sebagai apresiasi pemerintah terhadap bakti guru ngaji dan minggu.

Pemberian bantuan non tunai ini agar guru ngaji dan minggu memiliki kebebasan dalam memenuhi kebutuhannya. Uang aman disimpan di bank dan penggunaannya juga bisa dalam jangka waktu yang panjang. Meski demikian, Bupati menyampaikan permohonan maafnya apabila para guru ngaji dan minggu yang sudah sepuh kebingungan dengan mekanisme rekening. “Nanti ada petugas yang akan membimbing bapak ibu. Transaksi non tunai ini kita siapkan untuk menghadapi era globalisasi yang semakin hari semakin pesat,” ujar Bupati.

Bupati menyampaikan, guru ngaji dan minggu memiliki peran sentral dalam pembentukan akhlak anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Mereka sebagai ujung tombak dan pejuang dalam pemeliharaan suburnya Islam dan kedamaian antar umat beragama. Hal ini berdampak pada tatanan sosial kemasyarakatan yang kokoh baik secara agama maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedamaian dan kuatnya ikatan silaturahim yang diajarkan para kiai terdahulu sebagai benteng terhadap radikalisme dan terorisme. Karena sejak dini anak- anak telah memiliki pondasi keagamaan yang kuat dan jelas. “Jangan pernah ragu untuk menanamkan tatanan agama yang telah diajarkan oleh para ulama dan kyai terdahulu, namun juga jangan terlalu longgar. Karena jika longgar, hal ini akan merusak tatanan dan menimbulkan pemahaman yang sepenggal-sepenggal,” ujar beliau.

Bupati menjelaskan ulama dan kyai di Situbondo sepakat tidak memisahkan kehidupan beragama dengan berbangsa dan bernegara. Beliau meminta para ulama dan umaro terus bersatu membangun kabupaten Situbondo menjadi lebih baik dan bertahan di era globalisasi dan digitalisasi.

Pemberian bantuan guru ngaji dan minggu dimulai dari kec. Arjasa, berlanjut ke kec. Kapongan, dan berakhir di Kec. Mangaran. Ada 241 guru ngaji dan 4 guru minggu di lokasi pertama, 226 guru ngaji tanpa ada guru minggu di lokasi kedua, dan 172 guru ngaji di lokasi terakhir.